Bau Kemenyan di Launching Buku

Anick HT, penulis buku puisi esai "Kuburlah kami hidup-hidup"
Anick HT, penulis buku puisi esai “Kuburlah kami hidup-hidup”

Bau dupa kemenyan menyeruak di tengah-tengah ruangan. Sejenak terasa, ada ritual mistik yang akan digelar.  Temaram lampu memperkuat, bahwa kegiatan ritual akan segera dilakukan. Tapi siapa dan ritual apa?

Sejurus kemudian, lampu-lampu pun temaram. Lirih irama musik, terdengar di telinga dan samar-sama terdengar kata-kata keluar dari pojok ruangan. “Olenka, generasi yang hilang”.  “Olenka/ kau datang paaku dengan sejumput ragu//”.

Menit demi menit, kata demi kata berbaris kalimat bercertia tentang Olenka, meluncur dari seorang berperawakan sedang berkulit putih. Sepintas dari parau suara dan gerak-geriknya, ia seperti penyair (alm) W.S Rendra.

Kalimat pun habis. Dan saya tersadar bahwa ini, bukanlah ritual mistik yang digelar. Melainkan peluncuran buku berbalut musikalisasi dan teaterikal puisi. Berbeda, dari peluncuran buku biasanya, yang dilakukan dengan bedah buku, seminar dan lainnya.

Tapi ini juga berbeda dengan peluncuran sebuah antologi puisi misalnya. Karena ini, bukan buku puisi murni. Tapi sebuah buku “Puisi Esai”. Berbeda, sungguh berbeda, sekali lagi saya katakan 1000 kali ini berbeda dari peluncuran buku umu atau antologi puisi sekalipun. Perbedaaannya lagi, karena yang menulis buku ini, bukanlah seorang penyair, bukanlah seorang penulis buku. Melainkan seorang aktivis, yang  hanya terbiasa menuliskan press release, kronologis aksi, dan laporan penelitian.

Ya, ini adalah peluncuran buku puisi esai “Kuburlah kami hidup-hidup”. Karya Anick Hamim Tohari (Anick HT), di Pisa Café Mahakam, Blok M, pada Minggu 16 Februari 2014.. Sebuah buku yang menggunakan genre baru “puisi esai”, menuliskan fakta-fakta dalam rangkaian kata dan diksi dunia puisi, dan berakar catatan kaki, selayaknya sebuah esai. Buku yang mengisahkan keresahan seorang Anick HT, melihat terkoyaknya toleransi beragama di Indonesia. Kegeramannya terhadap kelompok yang mengatasnamakan agama, lau menghalalkan kekerasan dan darah untuk menciptakan suasana “suci’ di wilayah mereka.

musik puisiKembali kenapa saya sebut ini berbeda. Jelas sekali, pelibatan kelompok teater Syahid UIN Jakarta dan Laboratorium Teater Ciputat dalam peluncuran buku ini, jelas berbeda di mata saya. Sebuah buku ilmiah atau popular, biasanya diluncurkan melalui seminar dan bedah buku. Sebuah buku antologi puisi, biasanya juga dibalut dengan teaterikal dan diskusi analisis puisi. Tapi ini buku puisi esai, dibalut dengan musikalisasi puisi dan teaterikal, diselingi testimony dari beberapa tokoh bukan penyair. Melainkan tokoh-tokoh dari berbagai keyakinan, tokoh HAM dan para aktivis. Seperti Todung Mulya Lubis, Pdt. Albertus Patty,  Zafrullah A. Pontoh  dan lainnya.

Bait demi bait puisi dalam buku ini, diucapkan dengan indah dan lirih oleh para punggawa teater Syahid (Aseng, Eko, Ulil, retno dan lainnya). Menunjukkan kepada para undangan, bahwa  fakta-fakta kekerasan berlabelkan agama di Tanah Air sangat mengerikan dan memilukan.

Cerita tentang para korban kekerasan mengatasnamakan agama, para korban kebijakan publik yang intoleran terhadap kepercayaan berbeda. Terpaparkan jelas dalam pementasan musikalisasi puisi, terutama dalam segmen “Bu Murti Diculik Wiro Sableng”. Saat tokoh pemeran dalam puisi itu, hadir ditengah-tengah pengunjung.

puisiDukungan lighting yang mampu membawa suasana temaram, menunjukkan suasana yang suram terhadap perkembangan toleransi beragama di Indonesia. Sorotan lampu , pada saat beberapa tokoh bicara tentang testimoni buku dan fakta, menggambarkan beratnya permasalahan ini. Dan hanya segelintir orang yang mau peduli terhadap permasalahan intoleransi beragama ini.

Puncaknya, penulis buku puisi esai “Kuburlah Kami Hidup-hidup” Anick HT, muncul dari belakang panggung lalu monolog bicara konklusi. “Sekali lagi, ketimpangan, diskriminasi, ketidakadilan, dan kepicikan  harus disuarakan, untuk memancing keresahan demi keresahan. Lalu biarkan keresahan itu menemukan jalannya sendiri untuk mengubah negeri ini kea rah peradaban yang merangkak maju, bukan sebaliknya.”

Dan akhirnya, meski tampila slayer penutup kepala tidak cocok dipakai Anick HT saat monolog. Namun pria mantan Sekjend Lingkar Studi-Aksi untuk Demokrasi Indonesia (LS-ADI) ini, berhasil menebarkan keresahannya kepada para pengunjung peluncuran buku. Langsung, keresahan yang akhirnya kembali menjadi pembicaraan, kapan keresahan ini akan berakhir?

Iklan

One thought on “Bau Kemenyan di Launching Buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s